Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, Oktober 28, 2012

Pergerakan Mahasiswa Indonesia


  • Singkat cerita,  siapa yang mempelopori untuk berdirinya Boedi Oetomo? sebuah awal pergerakan atas kesadarannnya para intelek muda pada jaman itu, tentulah mahasiswa.
  • Siapa yang mempelopori Hari Sumpah Pemuda, 28 oktober 1928?(TEPAT 84 TAHUN YANG LALU) Yah, mahasiswa.
  • Siapa yang akhirnya mendesak para kaum2 golongan tua dan akhirnya menculik Bapak Soekarno dan Hatta? Yah,itu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, dan terkenal dengan peristiwa Rengasdengklok.

Setelah gerakan pada masa pra kemerdekaan saat itu, muncul gerakan mahasiswa tahun 1966 yang meruntuhkan Orde Lama dan memunculkan Orde Baru hingga gerakan penggulingan orde tersebut pada 1998 lalu, menunjukkan betapa signifikan peran mahasiswa dalam perubahan sosial politik Indonesia. Melihat sejumlah kecil contoh tersebut, mahasiswalah satu-satunya sosok yang berperan dan dapat menjadi 'komandan' dan mengambil alih dalam setiap moment perubahan di bangsa ini. Berbeda dengan sosok lainnya seperti militer atau polisi, mahasiswa yang dianggap belum teracuni oleh otak-otak politik dan mampu mengambil langkah netral.
Kembali ke cerita, Semasa Orde baru berkuasa,banyak pergerakan yang dilakukan para mahasiswa . Satu contoh kecil adalah  tuntutan mahasiswa tahun 1974 dengan peristiwa “Malari” dan tahun 1978 yang meminta Presiden Suharto mundur. Kedua peristiwa tersebut berbuntut pada ditangkap dan diadilinya banyak aktivis mahasiswa. Merasa kekuasaannya terganggu, pemerintahan Suharto menerapkan langkah jitu untuk membungkam setiap gerakan mahasiswa . Kebijakan ini tentu saja berakibat pada penghancuran infrastruktur politik mahasiswa. Kegiatan mahasiswa kemudian menjadi bagian dan dikontrol oleh birokrasi kampus (Rektorat) yang merupakan kepanjangan tangan birokrasi negara.  Pemerintah  melakukan pembekuan atas lembaga Dewan Mahasiswa, sebagai gantinya pemerintah membentuk struktur keorganisasian baru yang disebut BKK, dan hanya mengijinkan pembentukan organisasi mahasiswa tingkat fakultas Sejak saat itu, mahasiswa kita tidak terlibat lagi dalam politik kampus dan nasional, bahkan cenderung merasa dirinya tidak bermakna dalam politik. Yang ada hanya sebatas Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF). namun konsentrasi utama dari surat keputusan ini adalah keikutsertaan dan pengambilalihan untuk menentukan kegiatan mahasiswa yang dipegang oleh Rektor.

Untuk membuktikan eksistensinya dalam hal pengadaan perubahan bangsa ini, menjelang akhir tahun 1997 saat Indonesia dilanda krisis moneter dan diikuti krisis lainnya, para aktivis mahasiswa semakin memantapkan posisinya untuk melakukan gerakan menuntut Soeharto mundur. terbuktilah dengan aksi mahasiswa terbesar sepanjang sejarah untuk meruntuhkan orde baru dengan menduduki Senayan dan melakukan demo besar-besaran dengan tujuan utama: menggulingkan kepemimpinan Soeharto setelah 32 Indonesia terpuruk dibawah kepemimpinannya. Satu hal yang mempersatukan mereka adalah keinginan bersama untuk menjatuhkan  ke-totaliter-an Soeharto.Meski diwarnai kerusuhan dalam aksi-aksi nya di berbagai kota yang cukup mencoreng nama mahasiswa itu sendiri, namun Soeharto tetap terdesak dan mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998. Di sinilah sekali lagi bukti mahasiswa masih berperan sebagai pahlawan bangsa sekaligus pahlawan jalanan.

Kejadian  1998 tentu membawa perubahan besar bangsa ini, dan juga kemajuan dari sisi kualitas mahasiswa. Telah banyak para mahasiswa yang membuktikan eksistensinya, sebagai contoh tidak sedikit pelajar dari Indonesia yang sukses membawa pulang medali di ajang ternama diluar negeri, atau banyaknya alternatif yang muncul dari ide kreatif anak muda bangsa ini misalnya pemanfaatan mobil atau peralatan-peralatan hemat bahan bakar yang semakin banyak bermunculan. Dari sudut pandang lain, aksi besar-besaran tahun 1998 rupanya  masih membawa sedikit dampak negatif kepada pergerakan mahasiswa masa kini. Mahasiswa, masih memanfaatkan demo sebagai wadah penyalur aspirasi. Tentu tidak asing lagi ketika berita2di televisi mengangkat tema suatu demo mahasiswa yang mengangkat suatu isu namun ujung-ujungnya menjadi sesuatu yang anarkis atau bentrok dengan aparat kepolisian. Kejadian seperti ini yang membuat stigma negatif melekat dibenak masyarakt bahwa demo hanya akan berakhir dengan kericuhan, masyarakat tidak lagi bersimpati pada aksi-aksi jalanan mahasiswa.

Mahasiswa tidak diwajibkan untuk bisa berdemo, mahasiswa tidak hanya bisa demo. Demo hanyalah alternatif terakhir untuk  menyuarakan suatu pendapat, bukan malah alternatif pertama. Mahasiswa perlu suatu gerakan baru agar tetap bisa melakukan kontrol, tetap dapat menjujung tinggi aspirasi rakyat, tapi juga harus membawa manfaat bagi masyarakat. Kalaupun berdemo, tidak hanya berteriak kencang namun harus memiliki background pengetahuan luas tentang isu yang mereka bawa, haruslah seimbang antara keberanian atau tekad mereka dan kualitas diri mereka (intelektualitas). Pertemuan Badan eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Indonesia, 29 desember 2005-1 januari 2006 di Universitas Andalas, Padang, merupakan contoh gerakan intelektualitas saat ini. Mahasiswa bersatu dan bertekad satu untuk membahas isu-isu politik maupun sosial yang sedang terjadi, atau dapat saling melakukan kontrol sosial. 
Pada akhirnya muncul keyakian bahwa mahasiswa akan dapat terus memperjuangkan keadilan dengan modal intelektualitas dan keberanian mereka apapun nama gerakan yang mereka cantumkan di dada mereka. Mahasiswa, agent of change dan moral force yang akan terus menyuarakan aspirasi masyarakat dan menjadi pengamat pemerintahan dalam mencapai cita-cita masyarakat yang lebih baik.

HIDUP MAHASISWA INDONESIA !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar